Berpetualang ke Rangkasbitung

Senin kadang dikesankan sebagai hari tidak enak, hari sibuk, hari repot. Bahkan sampai ada yang membenci Senin dengan memberi tagline #hateMonday. Padahal semua hari sama saja, dari Ahad sampai Sabtu. Ketujuh hari itu disediakan oleh Allah kepada manusia tanpa memandang agama, ras, suku, dan bangsa. Jadi kalau sampai ada yang tidak suka dengan Senin atau hari lainnya, yang salah berarti persepsi manusianya. Yang harus diperbaiki adalah cara pandang terhadap hari itu, bukan harinya. Karena semua hari akan membawa berkahnya masing-masing.

Masih tentang hari, kemarin saya dan anak-anak menggunakan Senin untuk berpetualang. Kebetulan kemarin anak-anak libur sekolah, karena para gurunya ada acara perpisahan. Hitung-hitung sebagai ganti kegiatan sekolah field trip. Tanpa rencana sebelumnya, saya mengajak ketiga dara kecil pergi berpetualang. Oh iya kalau namanya berpetualang dalam pikiran saya adalah pergi dengan segala keterbatasan. Yaitu dana, waktu, dan tanpa rencana macam-macam. Pilihan saya adalah membawa anak-anak jalan tanpa menuju ke suatu tempat. Yang terpenting naik kereta (commuter line) ke satu stasiun untuk kemudian kembali lagi.

Kalau sudah dibilang akan pergi, anak-anak tidak akan mengalihkan perhatiannya dari bundanya. Ke mana pergi pasti diturut. ketika saya harus menyelesaikan sedikit urusan ke kelurahan dan kecamatan, mereka tetap minta ikut khawatir rencana pergi berpetualang tidak jadi. Setelah urusan beres, barulah kami berempat pergi untuk memulai petualangan beberapa jam. Diawali dengan doa melakukan perjalanan, kami naik mikrolet menuju stasiun yang dekat dengan rumah. Perjalanan ke stasiun hanya membutuhkan waktu kurang lebih 10 menit dengan laju mikrolet yang santai.

Berpetualang ke Rangkasbitung

Di stasiun Pondok Jati, saya baru memutuskan akan membeli tiket menuju Rangkasbitung. Tiket sekali jalan sekaligus jaminan, untuk 1 orang dewasa dan 2 anak-anak dengan tinggi minimal 90 cm hanya membayar 57 ribu. Tiga tiket sudah ada di tangan, kami langsung menuju peron tempat menunggu kereta yang akan membawa kami menuju stasiun Tanah Abang. Sambil menunggu, saya pun berselancar mencari informasi. Kira-kira tempat mana saja yang dapat dikunjungi, tidak jauh, dan mudah dijangkau posisinya dari stasiun. Maklum petualangan kali ini dengan membawa tiga dara kecil dan menggunakan angkutan umum.

Sekitar pukul 10 pagi, kereta pun datang. Kami segera naik, lalu mencari tempat duduk, alhamdulillah masih kebagian. Karena suasana di dalam kereta tidak penuh pada pagi itu. Kemarin, menjadi pengalaman pertama untuk saya dan anak-anak berada di stasiun Tanah Abang. Kecuali si kecil yang sebelumnya pernah diajak eyangnya untuk mengantar keponakan. Di sana kami harus berpindah ke peron 6 dengan menaiki tangga jalan yang disediakan. Sesampainya di peron, saya langsung bertanya ke petugas yang berjaga, tentang kereta tujuan Rangkasbitung. Sayangnya informasi yang didapat mengatakan bahwa kereta yang akan kami naiki baru saja jalan. Jadwal berikutnya akan datang lagi sekitar pukul 12 siang, itu artiya masih 2 jam lagi. Mau tidak mau kami harus menunggu kereta bila tetap ingin ke tempat tujuan.

Ada 2 kereta commuter line dengan tujuan sama–Serpong–yang terparkir di jalur 5 dan 6. Sambil menunggu saya pun bertanya kepada seorang ibu, yang ternyata juga ketinggalan kereta tujuan Rangkasbitung. Tentang lamanya perjalanan dan kemungkinan melanjutkan perjalanan dari Serpong. Setelah mengumpulkan informasi, akhirnya saya memutuskan naik kereta yang sudah terparkir tujuan Serpong. Dengan pertimbangan pertama, tidak ada tempat duduk yang nyaman dan aman (ramah) untuk anak-anak di stasiun Tanah Abang. Kedua, tidak lama lagi akan segera masuk waktu Dzuhur. Harapannya, saat di Serpong kami bisa melaksanakan sholat Dzuhur terlebih dulu, sambil menunggu kereta yang menuju Rangkasbitung.

Rencana untuk sholat berubah, setelah mendapat informasi dari seorang ibu yang mengajak saya ngobrol. Menurutnya, posisi musala di stasiun Serpong sulit dijangkau (melihat saya membawa 3 orang anak-anak), karena berada di atas. Disarankan untuk sholat di stasiun Sudimara, karena posisinya lebih mudah dijangkau dan di depan peron persis. Kami pun turun di stasiun Sudimara, dan betul apa kata ibu tadi. Posisi musala dekat dengan peron, jadi sangat memudahkan bagi saya dan tiga dara kecil. Selesai sholat, anak-anak meminta roti maryam, karena memang sudah waktunya makan siang. Kami memang memutuskan untuk makan siang kalau sudah sampai di Rangkasbitung. Supaya tidak terlewatkan kereta lagi.

Alhamdulillah, pukul 2 siang kami berhasil menginjakan kaki di stasiun Rangkasbitung untuk pertama kalinya. Hujan telah berhenti ketika kami turun dari kereta, padahal beberapa menit sebelumnya sempat turun hujan. Rezeki buat anak-anak, karena rencana awal tetap berjalan. Dengan tidak sabaran anak-anak mengajak segera ke tempat yang akan kami tuju. Sebelum keluar dari stasiun saya pun membeli tiket untuk kembali ke Jakarta (stasiun Pondok Jati). Tidak lupa menanyakan kapan jadwal kereta sore yang akan berangkat. Petugas menyebutkan sekitar pukul 3 sore. Berarti kami hanya punya waktu 1 jam saja untuk berpetualang di kota Rangkasbitung.

Ada tiga tempat yang kami tuju di Rangkasbitung, yaitu: alun-alun, perpustakaan saidjah adinda, dan museum multatuli. Keluar stasiun saya mengajak tiga dara kecil untuk mencari angkutan umum (angkot) yang bisa mengantarkan kami ke tujuan. Ada angkot warna merah nomor 4, melintas di depan kami. Saya pun segera menyetop dan bertanya ke supir, apakah rutenya melewati alun-alun. Kami pun naik setelah mendapat jawaban pasti dari supir angkot itu. Di dalam angkot saya masih saja bertanya, lebih dekat mana ke alun-alun atau ke museum multatuli. Ternyata pertanyaan tersebut menyebabkan kesulitan bagi kami. Karena ternyata supir angkot kurang paham posisinya. Akibatnya kami diturunkan jauh sebelum tiba ke tujuan 😩.

Kami diturunkan di depan rumah sakit, yang sayangnya saya tidak perhatikan apa namanya. Tengok kanan kiri belum juga melihat sosok gedung museum atau alun-alun. Mengharuskan saya bertanya lagi, kali ini ke tukang becak yang sedang mangkal. Itu pun masih belum jelas, akhirnya saya bertanya ke seorang ibu yang sedang berdiri di depan gerbang rumah sakit. Yang menyarankan untuk naik becak supaya sampai ke alun-alun atau museum multatuli.

Singkat cerita, kami pun mengikuti saran si ibu untuk menggunakan jasa becak. Sepakat dengan harga 10 ribu, becak pun digowes oleh supirnya. Sayangnya abang becak yang sudah tua usianya itu tidak tahu posisi dari museum multatuli. Nasib… 😂. Alhamdulillahnya, kami menemukan alun-alun tanpa sengaja. Karena kesepakatan awal minta diantar ke museum, makanya kami tidak turun di alun-alun. Hanya sempat mengabadikan dengan kamera tulisan alun-alun Rangkasbitung dari atas becak yang ditumpangi. Sudah sampai alun-alun pun belum tahu posisi museum, untungnya abang becaknya berinisiatif bertanya kepada tukang parkir. Tidak lama kemudian ketemu museum multatuli yang kami cari. Letaknya hanya berseberangan jalan dengan alun-alun Rangkasbitung. Alhamdulillah.

Selain menemukan alun-alun dan museum, kami sekaligus menemukan perpustakaan saidjah adinda, alhamdulillah. Letak perpustakaan tepat bersebelahan dengan museum multatuli. Bahkan halamanya pun saling terhubung. Baru tahu kalau ketiga tempat tujuan kami itu berada dalam satu lokasi 😊. Keterbatasan waktu membuat kami tidak leluasa berkunjung ketiga tempat itu. Hanya menyempatkan untuk berfoto di depan masing-masing gedung. Masuk sebentar ke dalam perpustakaan, ini pun karena gadis kecil yang hobi membaca merengek minta masuk ke dalam. Setelah membaca satu buku cerita, akhirnya kami keluar dari perpustakaan.

Untuk perjalanan kembali ke stasiun Rangkasbitung kami memilih naik becak lagi. Karena tidak ada angkot yang langsung melewati stasiun. Perjalanan menggunakan kereta untuk kembali ke Jakarta lebih cepat. Selisih 1 jam dibandingkan perjalanan menuju Rangkasbitung yang membutuhkan waktu 4 jam lamanya. Oh iya untuk anda pembaca tulisan ini, kalau ingin berpetualang ke Rangkasbitung seperti kami segera lakukan. Karena, biaya yang dikeluarkan tidak banyak kok, untuk tiket kereta commuter line dari Pondok Jati sampai Rangkasbitung hanya 9 ribu per orang. Untuk angkot yang salah menurunkan kami berempat dikenai 10 ribu. Jadi kalau perkiraan saya angkot hanya 4 atau 5 ribu. Harusnya hanya 14 ribu per orang, cukup murah bukan? Tapi kalau anda memilih naik becak maka tarif dari stasiun ke alun-alun adalah 10-15 ribu. Ayo ajak anak anda berpetualang ke Rangkasbitung dengan menggunakan kereta commuter line. Insyaallah anak-anak akan senang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>