Berkunjung ke TPST Bantar Gebang

Bantar Gebang, apa yang ada di benak anda yang muncul ketika membaca atau mendengar nama itu? Pastinya bau, sampah, gunungan sampah, tempat pembuangan sampah akhir. Betul sekali kalau yang muncul di benak seperti itu. Tapi tahukah anda di mana posisi dan letak dari Bantar Gebang itu? Pernahkah merasa penasaran seperti apa kawasan tempat pembuangan sampah terbesar bagi warga Jakarta itu? Kalau saya penasaran dan sangat ingin tahu. Sambil menunggu waktu yang tepat kapan bisa ke sana dan bagaimana caranya.

Awalnya saya punya rencana, kalau sampai ada kesempatan bisa ke sana dan melihat seperti apa tempat pembuangan akhir (TPA) Bantar Gebang. Adalah dengan cara mendatangi tempat pembuangan sampah sementara (TPS) yang ada dekat rumah. Untuk kemudian tanya dan ikut ke truk sampah bila diizinkan ๐Ÿ˜…. Alhamdulillah, tidak perlu sampai ikut dan naik truk sampah. Tadi pagi akhirnya saya punya kesempatan untuk melihat dari dekat TPA Bantar Gebang.

Kebetulan hari ini saya ada waktu dan mendapatkan pinjaman mobil. Di dalam mobil sempat ragu untuk pergi ke sana. Karena pergi sendirian dan belum pernah ke daerah Bantar Gebang. Tidak pernah tahu letak sebenarnya, selama ini hanya tahu dan dengar namanya saja. Alasan penasaran membuat saya ingin mengunjungi tempat pembuangan akhir sampah di Bantar Gebang. Pada akhirnya tadi pagi saya membulatkan tekad untuk tetap pergi juga walau sendirian. Itu pun setelah mencari dan melihat dari google map. Arah dan rute yang mungkin akan dilalui. Saat melihat di google map, saya pikir akan mudah untuk diikuti petunjuk arah yang diberikan. Terima kasih untuk teknologi yang keren itu.

Perjalanan hari ini 3 Juli untuk berkunjung ke TPA Bantar Gebang dimulai pada pukul 08.20 pagi dan sampai di lokasi pada pukul 09.36. Itu pun setelah berhenti di dua toko, untuk isi ulang uang elektronik. Dan dengan laju mobil yang biasa saja, karena khawatir salah jalan. Petualangan dimulai, saat akan memasuki gerbang tol saya baru teringat. Kalau masuk tol harus pakai uang elektronik sebagai pengganti uang tunai untuk bayar tol. Sempat berhenti di pinggir jalan sebelum gerbang tol Rawamangun, untuk mencari di dompet apakah ada uang elektronik. Alhamdulillah uang elektronik milik saya ada di dompet. Tapi ragu juga apakah masih ada isinya atau tidak. Tapi dengan percaya dirinya memutuskan tetap melanjutkan perjalanan melalui tol. Dengan harapan bisa isi ulang di gerbang tol yang ada penjaganya. Sambil degdegan ๐Ÿ˜.

Benar saja, isi saldo di dalam uang elektronik yang saya miliki kurang. Hanya tersisa Rp. 7 ribu saja. Dengan polosnya saya bertanya kepada ibu penjaganya, “bisa isi ulang atau tidak?” Ternyata tidak bisa. Saya berniat mundur keluar tol, tapi petugas itu menyarankan tunggu saja dulu mobil di belakang. Nanti baru pinjam, biasa kok seperti itu. Kebetulan ada truk di belakang mobil. Saya pun jalan menghampiri sopir truk untuk meminjam uang elektroniknya dan menyerahkan ke petugas untuk ditempelkan ke alat. Saldo uang elektronik milik sopir truk itu berkurang sebesar Rp. 9.500. Setelah selesai digunakan, uang elektronik itu pun dikembalikan, tidak lupa mengganti saldo milik supir truk dengan uang tunai sebesar Rp. 20 ribu.

Perjalanan dilanjutkan sambil berharap di gerbang tol berikutnya bisa melakukan isi ulang uang elektronik. Sambil terus melihat petunjuk dan arah yang diberikan oleh google map. Ditunjukan arahnya melalui tol untuk kemudian keluar di gerbang tol Cikunir. Seumur-umur rasanya saya belum pernah lewati tol ini. Apalagi harus melewati jalannya menuju Bantar Gebang. Alhamdulillah, akhirnya sampai juga di lokasi. Sepanjang perjalanan melewati jalan Narogong saya bertemu banyak sekali truk-truk sampah. Baik yang akan menuju ke Bantar Gebang maupun arah sebaliknya. Penasaran apakah bau atau tidak, saya pun membuka kaca jendela. Yup, bau ๐Ÿ˜…. Tidak tahan, langsung saja tutup lagi kaca jendelanya.

Berkunjung ke TPST Bantar Gebang

Truk-truk sampah dan siapapun yang datang ke kawasan penuh sampah ini akan disambut oleh gerbang atau gapura selamat datang. Bertuliskan: Selamat Datang di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu Bantar Gebang, Bekasi. UPST Dinas Lingkungan Hidup, Provinsi DKI Jakarta. Ternyata nama tempat ini bukanlah TPA seperti perkiraan saya dan sering disebut oleh banyak orang. Melainkan tempat pengolahan sampah terpadu (TPST). Dari informasi yang saya dapatkan, TPST Bantar Gebang ini sebelumnya ternyata dikelola oleh pihak swasta. Dengan anggaran per tahunnya yang cukup fantastis yaitu mencapai Rp. 400 milayar. Namun mulai dua tahun terakhir ini diambil alih kembali pengelolaannya oleh pihak Pemrov DKI Jakarta. Bahkan pengelolaannya jauh lebih baik dibandingkan saat dikelola oleh pihak swasta yang katanya sering wan prestasi. Selain itu penghematan anggaran pun bisa dilakukan separuhnya. Saya sebagai warga yang baru tahu informasi ini, tentu saja memberikan apresiasi untuk kerja Pemprov. DKI Jakarta atas perbaikan pengelolaan tersebut.

Berada di area baru yang belum pernah didatangi sebelumnya. Membuat saya harus bertanya kepada warga yang berada di sebuah warung. Apakah boleh saya masuk ke sana? Namun saya masih sanksi dan akhirnya bertanya kembali ke satpam yang bertugas. Sampai tiga orang satpam yang harus dilewati hanya untuk mencari informasi bolehkah masuk dan melihat ke area sampah-sampah. Namun akhirnya, saya harus sedikit kecewa. Karena menurut informasi yang didapatkan dari Kepala Satuan Pelaksana Pengolahan Energi Terbarukan, Komposting dsn 3R Serta Pemrosesan Akhir Sampah, Bapak Rizky Febriyanto. Ternyata harus membuat surat pemberitahuan terlebih dulu sebelum diizinkan melihat-lihat atau meliput ke dalam area TPST. Sebagai informasi TPST seluas kurang lebih 110 hektar ini adalah kawasan dalam zona berbahaya. Berbahaya karena tumpukan sampah yang menggunung. Dikhawatirkan apabila tanpa ada kawalan petugas, bila ada bahaya tidak bisa menghindari, dan sebagainya. Belum lagi saat saya berada di sana, arus lalu lintas keluar masuk truk saat ini sudah masuk dalam masa puncaknya yaitu mulai pukul 10.00-18.00 tiap harinya. Asal tahu saja nih, per hari truk-truk pengangkut sampah yang keluar masuk kawasan TPST Bantar Gebang ini sebanyak 1200-1300. Jadi itulah alasannya TPST ini ditetapkan sebagai zona berbahaya. Tidak dibebaskan kepada siapa saja untuk keluar masuk tanpa pengawasan. Karena akan sangat membahayakan keselamatan yang bersangkutan.

Alhamdulillah, saya mendapatkan informasi langsung dari pejabat yang biasa berwenang menangani kunjungan-kunjungan. Ternyata pihak TPST Bantar Gebang sangat terbuka untuk menerima kunjungan bagi siapapun yang ingin mengetahui tentang TPST Bantar Gebang. Syaratnya ada pemberitahuan sebelumnya, supaya ada petugas yang memberikan pengawalan. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Baiklah, kapan ada waktu saya akan kembali lagi ke tempat ini untukย berkunjung ke TPST Bantar Gebang. Tentunya dengan membawa rombongan, minimal suami dan anak-anak. Biar anak-anak belajar tentang sampah dan pengelolaannya.

35 thoughts on “Berkunjung ke TPST Bantar Gebang

  1. Lain kali bisa datang lagi bersama keluarga atau teman supaya bisa belajar mengenai pengelolaan sampah langsung dari sumbernya, TPST Bantar Gebang, yang sangat ngetop tentang sampah.

  2. aq pengen kesana tapi baca bukunya dee lestari yang aroma karsa, kayanya gak sanggup deh sama baunya disana.. hihihi
    cukup deh baca ceritanya aja, makasih udah sharing

    • Rumahnya di mana mbak? Ayo main ke utan kayu. Lumayan jauh dan belum pernah ke sana sebelumnya jadi degdegan gitu ๐Ÿ˜

  3. Terima kasih sharingnya mbak. Kebayang deh situasi di TPA Bantar Gebang ya, cukup tau dari cerita di novel Aroma Karsanya Dee Lestari. Wuihh bau sampah yg menggunung tuh sesuatu ya mbak…

Leave a Reply to Liswanti Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>