Berjalan Kaki yang Ngeri-ngeri Sedap di Jakarta

Jalan kaki, kalau anda mencari di gugel apa saja manfaatnya pasti ada. Salah satu manfaatnya supaya sehat dan menurunkan berat badan sebagai bonus. Cihuy, dapat menurunkan berat badan. Ini salah satu alasan yang memperkuat niat untuk melakukan jalan kaki. Sebenarnya jalan kaki pernah beberapa kali saya lakukan, sebagai pengganti kalau tidak punya uang untuk membayar angkot :). Alasan tepatnya sih biar badan ada sedikit gerak, karena selama ini jujur saja saya tidak pernah olah raga. Jadi memilih jalan kaki sepekan sekali selama kurang lebih 30 menit sebagai pengganti olahraga. Cukup lama juga tidak berjalan kaki dengan waktu tempuh selama 30 menit.

Akibatnya saat pertama kali memulainya lagi, terasa beratnya. Ketika melangkahkan kaki terasa berat, karena harus membawa badan ini untuk berjalan. Sementara badan yang diajak jalan juga tidak ringan bobotnya. Eh, bisa dibilang malas lebih tepatnya, tapi karena niatnya ingin sehat dan supaya badan juga bergerak. Ditambah mengharapkan dengan sangat bonusnya, berupa berkurangnya berat badan. Harus sedikit memaksakan diri bergerak–berjalan kaki–menyusuri jalan raya.

Berjalan kaki menyusuri jalan raya di Jakarta, terus terang ngeri-ngeri sedap. Baik dilakukan pada pagi maupun sore hari. Seolah tidak ada ruang yang diperuntukan bagi pejalan kaki di jalan raya. Pengguna jalan lain seolah tidak sudi untuk berbagi ruang di jalan untuk pejalan kaki. Nasib seorang pejalan kaki adalah seolah dianggap mengganggu bagi pengguna jalan yang menggunakan kendaraan bermotor. Dapat dikata jalan raya di Jakarta sangat tidak ramah, tidak aman, dan tidak nyaman bagi pejalan kaki. Anda tidak percaya? Silahkan dicoba dan rasakan sendiri sensasinya :).

Sekarang ini saya akan menceritakan pengalaman berjalan kaki di pagi hari pukul 06.55 WIB dan di sore hari pukul 17.10 WIB. Memang pilihan saya untuk berjalan bertepatan dengan waktunya arus para pekerja yang ingin berangkat ke kantor pada pagi hari dan arus pulang ke rumah setelah bekerja di sore hari. Seharusnya pemilihan waktu saya berjalan kaki tidak berpengaruh, kalau memang kota Jakarta ini menyediakan fasilitas bagi pejalan kaki. Pejalan kaki tetap dapat merasakan keamanan dan kemudahan saat berjalan menyusuri jalanan di seluruh Jakarta

Diawali dari berjalan ke luar rumah dengan menggunakan sepatu slip on saya memulai perjalanan menyusuri jalan di Jakarta. Saat menyeberang jalan ke jalan utama dari jalan lingkungan perumahan, dimulailah kewaspadaan. Karena saat menyeberang jalan pun pejalan kaki harus sudah berebut jatah ruangan dengan para pengemudi kendaraan bermotor. Banyak pengemudi kendaraan bermotor yang enggan untuk sekedar memperlambat laju kendaraannya. Alih-alih mengerem untuk mengurangi, malah menggas untuk menambah kecepatan. Apa tujuannya? Hanya mereka dan Tuhannya yang tahu. Tapi dengan menambah kecepatan laju kendaraan, tentu saja ini membuat takut pejalan kaki yang sedang—tengak tengok kanan kiri—mencoba menyeberang jalan. AKhirnya pejalan kaki harus buru-buru bahkan berlari untuk menghindari kendaraan yang akan lewat.

Berjalan Kaki yang Ngeri-ngeri Sedap di Jakarta

Sudah berhasil menyeberang jalan, tantangan berikutnya adalah berjalan menyusuri jalan raya (belum jalan utama) yang ramai. Sebagai pejalan kaki saya harus bersaing untuk mendapatkan sedikit ruang untuk berjalan. Dengan pengayuh sepeda, pengendara kendaraan bermotor (mobil dan motor) milik pribadi, angkot, penarik gerobak (baik yang berjalan kaki maupun yang menggunakan sepeda ataupun motor). Minimnya fasilitas jalan trotoar semakin menambah panjang daftar kengerian bagi pejalan kaki ketika berjalan kaki yang ngeri-ngeri sedap di Jakarta.

Minimnya fasilitas trotoar bagi pejalan kaki, bukan hanya dalam jumlah saja, melainkan beberapa hal berikut yang saya temui saat berjalan kaki menyusuri jalanan:

  1. Tempat parkir kendaraan bermotor: yang paling menyebalkan adalah ini. Karena sebagai penghalang terbesar pejalan kaki untuk berjalan. Akhirnya pejalan kaki harus turun dari trotoar dan menggunakan jalan raya. Sepertinya jarang sekali (kalau tidak mau dikatakan tidak pernah) dilakukan penertiban bagi parkir liar seperti ini. Pemilik kendaraan yang tidak memiliki garasi, menggunakan trotoar sebagai tempat parkir abadi kendaraan mereka. Bahkan para pemilik usaha, dengan seenaknya memarkir mobil truk atau gerobak angkutnya di trotoar kendaraan pribadi
  2. Tempat menanam pohon yang berukuran besar: kalau ini entah mana yang lebih dulu ada. Pohon-pohon berukuran besar yang ditanam atau trotoarnya yang dibuat lebih dulu? Karena pohon yang berukuran besar ini memenuhi lebar dari trotoar. Sehingga tidak ada ruang untuk berjalan di trotoar
  3. Tempat menaruh pot bunga (tumbuhan): sama dengan yang nomor 2. Pot-pot yang terbuat dari semen dan berukuran besar sengaja ditaruh sebagai penghias dan mempercantik jalanan tujuannya. Tapi sayangnya, peletakan pot-pot bunga di trotoar itu melupakan fungsi dari dibuatnya trotoarpot bunga
  4. Tempat menaruh barang dan berjualan dengan menggunakan gerobak serta kursi panjang: banyak ditemui pedangan kaki lima menggunakan trotoar sebagai tempatnya untuk berdagang dan mencari rezeki. Tapi sayangnya cara mereka mencari rezeki juga (sadar atau tidak) telah mendzolimi para pejalan kaki. Gerobak besar yang berfungsi sebagai meja dan dilengkapi dengan kursi panjang untuk duduk para pelanggannya memenuhi trotoar. Mereka asyik berjualan tanpa menghiraukan kesulitan para pejalan kaki yang akan menggunakan trotoar. Hal ini juga sepertinya didiamkan oleh pejabat terkait. Sehingga para pedagang kaki lima “merasa” memiliki hak untuk menggunakan tanpa batas badan trotoar untuk mengumpulkan rezekipedagang kaki lima
  5. Tempat dipasangnya tiang listrik, rambu lalu lintas, tiang penghalang: entahlah apakah memang trotoar harus berebut tempat juga dengan tiang-tiang? Tidak bisakah tiang-tiang ini ditata dengan apik dan tidak mengganggu dan mereduksi fungsi trotoar untuk pejalan kaki?tiang listrik
  6. Tempat bak penampungan sampah: ada pula ditemui bak penampungan sampah milik perorangan dari warga dibuat di atas badan trotoar. Kalau menurut pendapat saya pribadi juga tidak pantas dibuat di sana. Lagi-lagi alasannya karena mengganggu dan menghalangi pejalan kakitruk dan grobak angkut
  7. Dilewati oleh motor dan sebagai tempat mangkal tukang ojek: para pengendara motor yang tidak sabar untuk antri dan menunggu saat kepadatan lalu lintas, mereka dengan tanpa bersalahnya menggunakan trotoar. Merasa memiliki hak untuk melintas di atasnya. Apakah mereka tidak tahu ya, fungsi dan peruntukan dari trotoar itu dibuat? Kalau belum tahu, mari saya beri tahu artinya trotoar yang saya ambil dari kbbi.web.id berikut ini:

Trotoar/tro·to·ar/ n tepi jalan besar yang sedikit lebih tinggi daripada jalan tersebut, tempat orang berjalan kaki

Akibat tidak bisa melintas di atas trotoar karena terhalang oleh ke-7 hal di atas, akhirnya saya atau pejalan kaki lain harus mengalah. Turun dari trotoar untuk menggunakan jalan raya tempat kendaraan bermotor. Tapi nasib memang kurang baik bagi pejalan kaki. Karena harus mendengar bunyi klakson tanda protes dari pengendara kendaraan bermotor, yang diarahkan ke pejalan kaki. Mereka tidak mau mengerti untuk meminjamkan dan berbagi sedikit saja ruang di jalan.

Cerita berjalan kaki yang ngeri-ngeri sedap di Jakarta rasanya kurang lengkap bila hanya mengeluhkan tentang minimnya fasilitas trotoar. Saya masih akan menambahkan tantangan lainnya yang harus dilalui oleh para pejalan kaki saat melintasi jalan raya di Jakarta. Baik itu jalan raya di sekitar lingkungan perumahan atau di jalan raya utama.

Masalah jalan yang tidak rata alias naik turun dan berlubang-lubang alias tidak mulus, yang banyak ditemui di Jakarta tidak hanya mempersulit dan memperlambat para pengendara kendaraan bermotor. Pejalan kaki bahkan lebih menderita lagi, saat harus melewati jalannya. Bahkan dengan usaha yang lebih besar dibandingkan pengendara kendaraan bermotor. Loncat dan berlari kecil akan dilakukan, sekedar untuk menhindar baik dari rintangan masalah di jalan maupun menghindari kendaraan bermotor yang juga ingin melintasi jalan. Jalan yang tidak rata dan genangan air yang harus dilalui menjadi tantangan berikutnya saat berjalan kaki yang ngeri-ngeri sedap di Jakarta.

Rute jalan pilihan yang saya lalui saat berjalan kaki memang sangat menantang :). Harus melalui tempat pembuangan sampah sementara (TPS) milik pemda, menyusuri sungai, dan jembatan penyeberangan orang (JPO). Setiap kali melewati TPS di pagi hari, pasti ada saja air yang tergenang bekas tetesan air kotor dari truk sampah. Saya pun harus tengok ke belakang lebih dulu sebelum melewati jalan yang ada genangan air kotor itu. Supaya tidak berbarengan dengan kendaraan bermotor yang akan lewat juga. Khawatir ketika berbarengan dengan kendaraan bermotor itu melintasi genangan, airnya akan menciprat ke arah saya. Selain itu saya juga harus sedikit berlari atau meloncat untuk menghindari genangan air kotor yang sudah mengalir sampai ke arah sungai.

Selain tempat pembuangan sampah sementara, jalanan yang tidak rata juga menjadi penyebab timbulnya genangan air di pinggir jalan. Genangan air kotor biasanya disebabkan oleh air hujan yang tidak dapat mengalir dan sekaligus menjadikan jalanan yang belum diaspal menjadi becek. Pejalan kaki akan memiliki risiko akan terciprat air kotor atau bisa jadi malah harus berbecek-becekan saat melintasi jalan yang tidak rata atau tidak mulus. Ditambah lagi harus mendengar bunyi klakson yang ditujukan ke pejalan kaki oleh pengendara kendaran bermotor yang merasa lebih berhak menggunakan jalan dibandingkan yang lainnya.

Ternyata cukup panjang cerita pengalaman saya berjalan kaki yang ngeri-ngeri sedap di Jakarta. Intinya adalah keamanan dan kenyamanan para pejalan kaki sangat diabaikan oleh pemerintah daerah hingga saat ini. Entahlah mungkin masalah yang dihadapi oleh pejalan kaki seperti yang saya alami, belum menjadi prioritas pembangunan di Jakarta.

Di Jakarta sebentar lagi akan ada pelantikan Gubernur dan Wakil Gubernur yang baru nih, yang dimenangkan oleh Bapak Anis Baswedan dan Bapak Sandiaga S. Uno. Boleh dong saya berharap nasib para pejalan kaki diperhatikan. Supaya makin banyak orang yang senang jalan kaki, sehingga makin sehat warganya. Saya jadi ingat, pernah membaca janji kampanye waktu masih calon gubernur dan wakilnya beberapa waktu lalu. Jadi saya barusan mencari-cari janji itu di gugel, dan menemukannya di sini . Janji kampanye paslon 3 waktu itu salah satunya adalah ini:

Menjadikan Jakarta sebagai Kota Hijau dan Kota Aman yang ramah, sejuk dan aman bagi anak, perempuan, pejalan kaki, pengguna jalan, dan seluruh warga;

Makanya postingan ini sekaligus ingin mengingatkan dan menagih janji kampanye Bapak Anis Baswedan dan Bapak Sandiaga S. Uno. Ayo dukung Gubernur Jakarta yang baru untuk mewujudkan semua janji-janjinya saat kampanye. Semoga benar-benar dapat diwujudkan. Salam bersama!

 

3 thoughts on “Berjalan Kaki yang Ngeri-ngeri Sedap di Jakarta

  1. Duhhh bener banget mbaa.., aku suka banget jalan kaki sebenernya tapi gemes kalo jalan di Jakarta. Pernah aku jalan kaki lewati tukang jualan yang buka tenda di trotoar, trus si tukang jualannya marah, krn aku lewatin tengah2 tenda dia (aku gak mau turun ke jalan karena kendaraan pada kenceng2 banget, takut keserempet). Yaaa aku marah balik lah, orang dia yang ngambil hak pejalan kaki, kok, dia yang marah…

Leave a Reply to zata ligouw Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>