Asap Membawa Duka

Senin datang lagi, pertanda hari baru di awal pekan. Bagaimana kabar anda? Semoga sehat selalu ya. Alhamdulillah, kita yang di Jakarta atau Jawa pada umumnya dalam keadaan sehat. Masih diberi kesempatan untuk bernafas. Menghirup oksigen yang masih bersih dan segar di pagi hari. Dengan jumlah yang berlimpah dan bebas. Sehingga mudah di dapatkan tanpa harus membayar satu sen pun. Setiap detik tanpa dibatasi dengan kuota. Tidakah bersyukur atas itu?

Tidak terbayang bagaimana kalau oksigen yang dibutuhkan oleh tubuh. Sudah jumlahnya terbatas dan tercemar, kita pun harus membayar. Ya, untuk bernafas tapi harus bayar. Mungkin dari kita banyak yang meninggal tepat sesaat dilahirkan. Tidak terbayang pula bila oksigen yang dihirup tercemar bahkan beracun. Tentu dalam hitungan detik saja, siapapun yang menghirupnya akan meninggal.

Saya termasuk orang yang sangat sensitif dengan bau-bauan. Yang berasal dari asap, seperti sampah dan rokok yang dibakar. Tidak betah dan langsung sesak, membuat sulit bernafas. Belum lagi mata akan berair dan pedas. Demi membebaskan diri supaya bisa bernafas dengan baik. Biasanya memilih untuk menjauhi sumber asap bila memungkinkan. Bila tidak bisa menjauh, maka tidak akan ragu apalagi sungkan untuk menegur orang yang menjadi sumber asap. Baik itu asap sampah ataupun rokok. 

Asap-membawa-duka

Jadi, tidak mampu membayangkan kalau sampai harus mengalami tragedi asap. Seperti yang saat ini bahkan tiap tahunnya dialami oleh saudara-saudara kita yang ada di sebagian wilayah Sumatera (Riau dan Jambi) dan Kalimantan. Akibat adanya kebakaran hutan yang sengaja dilakukan oleh oknum tidak bertanggung jawab. Jangankan untuk berbulan-bulan, hanya beberapa menit saja pasti sudah tidak kuat. Sepertinya beberapa tahun belakangan ini tragedi kebakaran hutan yang menjadi bencana bagi warga yang terdampak asap terus berlangsung. Korban tentu ada dan sangat banyak yang berjatuhan. Baik orang tua, muda, dewasa, anak-anak, pria, dan wanita semua bisa menjadi korban dari asap. Mungkin ada saja orang yang menganggapnya sepele, dengan ucapan “ah cuma asap nanti juga hilang sendiri”.

Iya kalau asapnya sedikit, nah ini yang terpapar asap bukan masyarakat yang berada di sekitar hutan terbakar saja. Melainkan hampir seluruh pulau, menyeberang ke pulau lain, bahkan mengganggu negara tetangga. Gimana bisa hilang kalau tidak ditangani dengan baik, malah beredar di masyarakat luas ada kesan pembiaran. Kesan itu bukan tanpa sebab, karena tragedi asap ini bukan lagi hitungan jam, melainkan sudah hitungan bulan masyarakat terkena asap. Kebakaran masih saja berlangsung hingga hari ini, menambah pekat asap yang dihasilkan. Sementara yang merasakan dampaknya dan menderitanya sudah tidak ada yang mempedulikan. Bahkan menurut Greenpeace belum ada pelaku pembakaran hutan yang ditangkap. Membuat kejadian pembakaran hutan terus berlangsung dan berulang, karena merasa bebas. 

Asap Membawa Duka

Tinggal para korban dari asap membawa duka merasa ditelantarkan. Menyisakan kepedihan dan luka yang dalam. Karena korban sudah semakin banyak, disebabkan oleh asap yang tidak kunjung lenyap. Hanya bisa berdoa dan berharap, masih ada oksigen segar turun dan didatangkan dari langit. Untuk membebaskan anak-anak dan orang tua dari sesak di pernafasan. Mau minta pertolongan ke mana lagi, selain ke Allah, Zat Yang Mahakuasa. Karena manusia yang dimintai dan diharapkan pertolongannya. Ternyata begitu lemah mata hatinya melihat penderitaan akibat asap, tapi tidak juga berempati. Malah membuat sedih dan sakit hati.

 

Daripada hanya menunggu dan berharap bantuan untuk melenyapkan asap membawa duka, tapi entah kapan. Masyarakat sendiri pula yang akhirnya berinisiatif saling bantu membantu. Melakukan penggalangan dana, untuk diserahkan ke para korban asap membawa duka. Walau tidak banyak, sekedar memberikan sedikit senyum untuk saudara-saudara di sana. Penggalangan dana dilakukan oleh perorangan maupun melalui lembaga swadaya masyarakat, lembaga filantropi, lembaga amil zakat, dan sebagainya. Anda tertarik untuk membantu dan memberikan donasi pula? Bisa dilakukan hanya dengan cara mentransfer antar bank saja. Insyaallah, niat untuk membantu dengan donasi yang dilakukan sudah sampai.

Caranya mudah saja kok, anda tinggal pilih lembaga filiantropi yang anda percaya untuk menyalurkan donasi yang akan diberikan. Banyak sekali lembaga yang bisa dipercaya. Salah satunya adalah Aksi Cepat Tanggap (ACT) yang memiliki tagline care for humanity. Kali ini ACT akan melayarkan kapal kemanusiaan darurat asap, untuk menyampaikan donasi dari para donatur untuk mereka yang terkena asap membawa duka. Anda bisa memilih memberikan donasi dalam bentuk barang kebutuhan, seperti beras, air mineral, susu kemasan, kacang hijau, gula merah, gula putih, masker N95. Catatan bagi anda yang ingin memberikan bantuan berupa barang, sebaiknya diperhatikan tanggal kadaluarsanya yaitu paling cepat bulan Februari 2020. Atau berupa uang yang dapat ditransfer dengan mudah antar bank. Ke rekening BNI Syariah nomor 66 0000 4443 milik Aksi Cepat Tanggap. Jumlah yang akan didonasikan tentu saja terserah, tidak ada batasannya. Semakin banyak tentu saja akan semakin baik. Anda tertarik ikut membantu dalam penggalan dana ini, silakan segera lakukan. Jangan tunda setiap niat untuk melakukan kebaikan.

2 thoughts on “Asap Membawa Duka

  1. Menjadi warga Palembang, asap benar-benar menjadi bencana tahunan saat kemarau tiba. Tapi tahun 2019 ini cukup parah dan terasa sangat menyesakkan. Semoga kelak pemerintah lebih ketat lagi dalam mengurusi karhutla. Banyak bayi dan orang tua yang jadi korban terparah.

Leave a Reply to Rumi Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>