Ada Mumi Asli Indonesia di Pekan Kebudayaan Nasional

Sudah hari kedelapan di bulan Oktober ini, yup sudah Selasa saja. Semoga segala kemudahan menghampiri kita semua dalam menjalani hidup ini. Jangan pernah ada rasa putus asa, karena semua pasti ada jalannya. Hanya belum ditemukan oleh kita jalan itu 😊. Jadi tetap usaha, berharap, dan semangat.

Kemarin Senin pagi, setelah antar adek sampai depan sekolahnya, saya melajukan motor ke arah Manggarai. Saat itu masih pukul 7.40 pagi, jadi motor pun melaju dengan santai. Karena acara yang ingin didatangi masih akan buka pukul 9.00. Makanya saat ada antrean kendaraan menuju stasiun Manggarai, tidak menjadi beban apalagi sampai mengganggu. Antrean itu dimulai kurang lebih tiga ratus meter sebelum stasiun Manggarai, kendaraan sudah padat merayap. Antrean kendaraan yang ingin lewat itu disebabkan, harus berbagi badan jalan dengan para supir ojol yang parkir sembarangan. Belum lagi dengan bajaj-bajaj yang parkir memanjang di pinggir jalan.

Lepas dari antrean di Manggarai, laju motor masih harus menghadapi kepadatan kendaraan antara lampu lalu lintas di depan RS. Agung hingga Guntur. Lewat titik itu, alhamdulillah perjalanan lancar jaya. Sengaja memilih melewati jalan Jenderal Sudirman saat perginya, untuk melihat-lihat suasana segitiga bisnis di pagi hari. Kebetulan sudah lama juga tidak pernah melewati jalan ini, kangen dan ingin tahu ada perubahan apa saja sekarang. Banyak sekali perubahan yang terjadi di jalan itu, diantaranya tentu saja kini di bawahnya sudah melaju MRT Jakarta mulai Maret 2019. Sementara di kanan kiri jalan sudah dibangun trotoar dengan ukuran yang lebih luas. Di atasnya terdapat halte bus modern yang dilengkapi dengan papan penunjuk rute bus. Ditambah dengan lorong menuju stasiun MRT Jakarta di bawah tanah. Benar-benar konsep trotoar yang lengkap, menambah cantiknya jalan-jalan di pusat bisnis di kota Jakarta.

Mungkin anda akan tertarik juga membaca cerita saya tentang pengalaman norak naik MRT Jakarta.

Istora Senayan, tempat yang akan dituju. Dari jalan Jenderal Sudirman laju motor saya belokkan menuju Jl. Pintu Satu Senayan. Yang disambut dengan gerbang di atasnya terdapat tulisan Gelora Bung Karno berukuran besar. Sampai sini saya kebingungan masuk melalui gerbang yang mana. Jujur kalau di kawasan Senayan ini bingung sekali, karena banyak sekali area dengan nama yang berbeda-beda. Tahunya kawasan itu disebut Senayan sebagai kemudahan. Saya pun tetap melajukan motor dengan harapan meilhat petugas atau satpam yang bisa ditanya. Sayangnya sampai dengan di jalan Gerbang Pemuda tidak ada petugas yang bisa ditemui. Tidak jauh dari kantor TVRI terlihat ada satpam yang sedang berjaga di pinggir gerbang yang terbuka. Motor pun saya arahkan ke gerbang yang terbuka itu dan langsung bertanya di mana letak Istora Senayan.

Berbekal petunjuk dari satpam, akhirnya ditemukan juga letak Istora Senayan. Posisinya tidak jauh dari Balai sidang Jakarta (Jakarta Convention Center-JCC). Berturut-turut bersebelahan dengan Stadion Akuatik dan Plaza Timur Senayan. Untuk parkir motor ternyata belum bisa di tempat parkir yang disediakan di area Istora Senayan. Entah rusak atau kenapa, saat menempelkan kartu uang elektronik di mesin parkir. Selalu ditolak. Mesinnya mengucapkan kalimat kurang lebih “anda belum bisa memasuki tempat parkir, masih ada antrean kendaraan di depan”. Padahal tidak ada satu pun kendaraan yang antre di depan portal. Terpaksa mencari tempat parkir lain dan letaknya lumayan jauh, yaitu di Stadion Akuatik. Yang berjarak kurang lebih 454 meter ke Istora Senayan, kalau diukur menggunakan Gmap. Berjalan kaki menuju Istora Senayan lumayan keringetan dan membuat baju sedikit basah. Mau gimana lagi, tidak ada yang bisa ditumpangi.

Pukul sembilan kurang lima belas menit saat sampai di depan gerbang Istora Senayan. Masih terlihat sepi dan tidak terlihat aktivitas yang mencolok untuk ukuran acara yang diadakan di tempat seluas itu. Hanya ada panitia acara di loket tiket dan petugas keamanan yang berjaga di depan mesin detektor. Saya pun menghampiri loket tiket dan disambut oleh panita yang bertanya “apakah sudah daftar daring sebelumnya?” Karena pada Ahad malam sudah mendaftar melalui pkn.kebudayaan.id/tiket, dan mendapatkani tiket elektronik yang dikirim ke surel. Jadi tinggal menunjukkan ke petugas yang ada di loket tiket umum saja. Setelah kode batang yang ada di tiket elektronik dipindai, setiap pengujung akan diberikan gelang kertas yang harus digunakan di pergelangan tangan sebagai tiket masuk.

Tiket masuk elektronikAnda yang tertarik ingin datang ke acara pekan kebudayaan nasional di Istora Senayan bisa mendaftarkan diri terlebih dulu di tautan di atas. Siapkan surel yang masih aktif, karena tiket elektronik akan dikirimkan ke alamat surel yang didaftarkan. Oh iya, satu alamat surel bisa mendapatkan 5 tiket masuk.

Kalaupun tidak sempat mendaftar secara daring, panitia juga menyediakan pendaftaran langsung di tempat. Di samping loket tiket nanti disediakan layar monitor berukuran besar yang digunakan oleh pengunjung untuk mendapatkan tiket masuk pekan kebudayaan nasional di Istora Senayan. Sama-sama gratis tanpa biaya dan tidak diperjualbelikan tiketnya.

Pengunjung yang sudah memiliki gelang tiket dipersilakan masuk melalui jalur yang disekat dengan pagar besi pendek yang dapat dibongkar pasang. Hingga sampai di depan mesin detektor yang dijaga oleh petugas.

Sudah melewati pemeriksaan gelang tiket dan mesin detektor, lagi-lagi saya kebingungan. Tidak ada panitia yang mengarahkan ke mana pintu masuknya. Mungkin karena masih pagi dan hari pertama, jadi panitia pun masih gagap dengan suasana di lapangan. Daripada bengong saya pun mulai untuk berkeliling melihat suasana di acara pekan kebudayaan nasional ini. Ternyata persiapan belum semua sempurna diselesaikan, di sana sini masih terlihat panita dari masing-masing pengisi acara menyelesaikan dan merapikannya 😅.

Pekan Kebudayaan Nasional di Istora Senayan

Sejak pekan lalu promosi acara pekan kebudayaan nasional di Istora Senayan ini banyak berseliweran di media sosial, utamanya di grup-grup whatsapp. Saya pun mengetahuinya di salah satu grup orangtua murid. Selain itu juga poster pekan kebudayaan nasional di Istora Senayan banyak di tempel di beberapa titik di stasiun bawah tanah Bundaran HI. Jelas tertarik dong, makanya saya mau datang walaupun sendirian dulu. Rencananya sih mau ajak anak-anak nanti pada hari Sabtu atau Ahad. Pekan kebudayaan nasional ini diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Namanya saja sudah ada kata pekannya, menandakan acara ini diselenggarakan selama sepekan penuh dari tanggal 7 sampai dengan 13 Oktober 2019 di Istora Senayan.

Di acara pekan kebudayaan nasional di Istora Senayan akan ada beberapa kegiatan dan acara yang digelar. Diantaranya workshop, konfrensi dan panggung kreasi yang akan diisi oleh para pengisi acara, seperti: Didik Kempot, Kunto Aji, Maliq & DÉssential, Teater tradisi Miss Tjitjih, dan masih banyak lagi. Yang membuat saya tertarik untuk datang ke pekan kebudayaan nasional di Istora Senayan ini karena dipromosikan kalau anak-anak bisa menjajal permainan anak zaman orangtuanya dulu. Kalau memang ada kan seru banget ya, kita bisa memperkenalkan permainan-permainan itu ke anak-anak. Yang jelas permainan anak zaman dulu masih menggunakan fisik. Beda sekali dengan permainan anak zaman sekarang yang serba elektronik dan menggunakan gawai.

Tapi saya sedikit kecewa kemarin, karena apa yang saya harapkan tidak didapatkan. Yang menjadi daya tarik bagi saya untuk datang adalah karena ingin melihat permainan anak zaman dulu. Nyatanya setelah berkeliling satu kali di lantai bawah dan satu kali di lantai atas, tidak menemukan satupun gerai yang memamerkan jenis-jenis permainan. Apakah karena masih pagi dan hari pertama ya, di mana masih ada beberapa gerai yang disediakan masih kosong? Atau jangan-jangan yang dibilang bisa menjajal permainan anak itu adalah kompetisi permainan ya. Kalau yang dimaksud menjajal berarti berkompetisi dalam permainan memang ada. Bahkan kemarin saat pembukaan terdengar, karena saya tidak sempat melihatnya, hanya mendengar saja, dari pengeras suara. Para pejabat dari Kemendikbud RI mencoba permainan yang disediakan, salah satunya permainan egrang. Tetap saja tidak memuaskan dahaga saya untuk melihat jenis permainan anak yang ada di seluruh Indonesia.

Ada Mumi Asli Indonesia di Pekan Kebudayaan Nasional

Kekecewaan saya dapat terobati dengan adanya gerai yang menampilkan replika dari 5 tradisi pemakaman istimewa yang biasa dilakukan oleh masyarakat di Indonesia. Walaupun saat saya masuk ke gerai tersebut masih belum siap 😅. Masih ada pekerja yang mempersiapkan beberapa hal, seperti mengecat replika tengkorak. Yang paling menarik adalah keberadaan mumi dari seorang pria, yang masih dalam keadaan sangat baik. Kalau biasanya diketahui muminya berasal dari Mesir sana, yang terkenal juga dengan sarkofagus dan piramidanya. Kali ini ada mumi asli Indonesia di pekan kebudayaan nasional. Berasal dari Sulawesi Barat, tepatnya di kota Mamuju. Saat saya melihat ke dalam gerai, mumi itu sedang dipersiapkan oleh petugas. Menurut informasi dari ibu petugas yang mempersiapkan mumi itu. Kalau tidak sedang dipamerkan, sehari-hari disimpan di Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) yang ada di kota Makassar. Bagi anda yang ingin memfoto atau memvideokan muminya boleh kok. Asalkan tidak menggunakan lampu kilat (flash) karena akan berpengaruh pada suhu di sekitar. Dikhawatirkan akan menjadi penyebab rusaknya mumi yang sudah berusia ratusan tahun itu.

Oh iya saya sempat memvideokan dan sudah diunggah ke youtube, bisa anda tonton ini tautannya. Jangan lupa untuk subscribe ya.

wpid-gerai-mumi-asli-indonesia8453055086397014167..jpg

Selain ada mumi asli Indonesia di pekan kebudayaan nasional, di pamerkan beberapa kebudayaan asli milik beberapa daerah. Yang ikut dalam acara diantaranya ada Aceh, Bali, Jawa Timur, dan Jambi. Karena acara ini merupakan pekan kebudayaan, maka yang dipamerkan atau yang didiskusikan dalam workshop atau konferensi, tentu saja berkaitan dengan kesenian atau kebudayaan. Selain lukisan di media kanvas, anda bisa menemukan seni melukis di atas daun. Saya sempat melihat wajah dari para presiden Republik Indonesia dilukis di atas daun. Bila anda berminat bisa juga mengikuti konferensi atau workshop yang diselenggarakan. Tiap hari akan ada tema berbeda yang dapat diikuti, semuanya gratis. Kemarin saya pun sudah mendaftar ingin ikut salah satu seminar tentang penulisan. Yang akan berlangsung pada pukul 13.00-15.00, sayang sekali saya mendadak pusing. Khawatir tidak kuat, akhirnya membatalkan diri dan langsung pulang pada pukul 10.55.

wpid-mumi-asli-dari-indonesia1488571543250903836..jpg

Sebelum pulang, saat menuju jalur keluar yang berada di samping mesin detektor, ada yang menarik perhatian. Yaitu sebuah ruangan besar dengan pintu terbuka. Karena terlihat cukup sepi dari luar, saya pun bertanya kepada petugas keamanan yang berjaga di depan mesin detektor. Ada apa di ruangan tersebut? Sayangnya petugas tidak punya informasinya. Ketika ditanya lagi, apakah yang ada di ruangan tersebut termasuk ke dalam acara pekan kebudayaan nasional juga? Petugas menjawab iya dan mempersilakan saya masuk ke ruangan itu bila ingin melihatnya. Tentu saja kesempatan itu tidak disia-siakan, setelah mengucapkan terima kasih. Langsung menuju ke ruangan yang menarik perhatian itu. Untungnya rasa penasaran saya akan ruangan ini tidak salah. Walau sepi tapi ada tanda-tanda kegiatan dan kehidupan di dalamnya. Ruangan yang cukup besar itu diisi dengan kursi-kursi yang masih kosong. Di depannya ada sebuah panggung kecil dengan meja dan kompor. Sepertinya kalau boleh ditebak akan ada demo memasak. Karena ada beberapa orang yang sedang mempersiapkan atau malah sedang memasak sesuatu di sana.

Yang paling menarik perhatian saya di dalam ruang itu adalah sosok tokoh dari pewayangan, dalam bentuk replika wayang kulit Gatot Kaca berukuran sangat besar tertempel di dinding. Dengan tinggi 5 meter, replika Gatot Kaca itu terbuat dari susunan 2000 lebih kue-kue tradisional. Yang biasanya dikenal sebagai jajanan pasar oleh masyarakat Indonesia. Keren. Dikerjakan dengan sangat telaten di mana membutuhkan waktu selama 12 jam. Berikut ini jenis kue yang menjadi bagian dari replika Gatot Kaca, yaitu: cenil merah: 100 porsi, cenil ungu: 100 porsi, Klepon: 100 porsi, kue ku kecil: 90, kue ku besar: 30, ketan hitam: 5 kg, Lemper: 100, jagung: 5 kg, lopis: 30, getuk pelangi: 128 porsi, brownies: 75, lapis suji: 100 porsi, sus vla: 50, lapis surabaya: 45, kue mangkok ubi merah: 60, kue mangkok ubi ungu: 45, pie buah: 60, roll coklat raksasa: 3, arem-arem: 30, risoles rogut: 100, pastel: 100, sosis solo: 45, centik manis merah muda: 36, centik manis hijau: 36, kue lumpur: 80, bika ambon: 36, putu mayang hijau: 30, putu mayang putih: 30, ptu mayang merah muda: 30, ongol-ongol: 30, talam ungu: 30, Lepet: 50, singkong sawut: 20 kg, dan kelapa parut dari : 15 kelapa.

Entah akan bertahan sampai kapan kue-kue yang disusun menjadi replika Gatot Kaca itu. Apakah akan dibiarkan menjadi basi dan terbuang percuma, mubazir. Atau akan dibagikan kepada para pengunjung 😁. Bila anda tertarik ingin melihatnya segeralah datang ke pekan kebudayaan nasional. Jangan sampai ketinggalan, karena selain ada mumi asli Indonesia di pekan kebudayaan nasional anda juga bisa lihat replika Gatot Kaca dari kue. Sampai tulisan ini dibuat, saya masih penasaran dengan permainan anak zaman dulu, apakah akan dipamerkan atau tidak. Kalau memang ada dan tidak ada perubahan acara, rasanya ingin ajak anak-anak datang ke Istora Senayan.

 

wpid-replika-gatot-kaca-dari-kue4441840170284529873..jpg

10 thoughts on “Ada Mumi Asli Indonesia di Pekan Kebudayaan Nasional

    • Wah sayang banget. Letaknya ada di sisi kiri dari arah pintu masuk di lanti 2. Memang agak di tengah sih, jadi kalau tidak mengelilingi benar-benar seluruh area Istora memang tidak bakal ketemu 😁

  1. Ya memamg mba kebiasaan suku di sana majene atau toraja suka mengawetkan mayat lalu jadi mumi seperti bangsa mesir, suka iri sama jakarta suka bgt adain pekan kebudayaan seperti ini :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>